Senin, 12 Maret 2012

SEKALI LAGI TENTANG BUDAYA MEMBERI

Secara terbuka dan argumentative, tidak ada seorang pun yang dapat mematahkan alasan kebaikan memberi, namun seringkali dalam dataran kenyataan masih dijumpai berbagai kalangan yang berusaha mencari cari alasan untuk tidak merealisasikan memberi tersebut, sehingga memberi itu tidak bisa menjadi budaya di kalangan masyarakat. Hal tersebut kemungkinannya sebabnya ialah belum didapatkannya nikmat yang bisa dirasakan dalam memberi tersebut. Bahkan seringkali masih kita jumpai pula bahwa dalam memberi tersebut terdapat berbagai pertimbangan yang ujung ujungnya tidak jadi memberi.

Memang dalam persoalan ini sangat dibutuhkan perenungan yang mendalam, sembari mengingat semua kebaikan memberi dan keburukan bakhil serta berbagai penyakit hati. Untuk persoalan inipun sudah banyak orang yang mengetahuinya dengan sangat gambling, tetapi belum banyak yang melaksanakan perenungan tersebut sehinga banyak pula yang belum medapatkan ketulusan hati yang sejati. Akibatnya berbagai pertimbangan duniawi yang mendominasi kehidupan seseorang tersebut.

Padahal kita semua tahu bahwa hidup di dunia ini tidaklah langgeng, dan kehidupan akhiratlah yang kekal selama lamanya. Untuk itu seharusnya bekal yang dipersiapkan untuk kehidupan akhirat harus lebih banyak dibandingkan dengan bekal yang harus dipersiapkan untuk kehidupan di dunia, termasuk persiapan amal dalam bentuk memberi. Sesungguhnya semua orang juga sudah mengetahui bahwa harta yang banyak yang ditumpuk di dunia, sama sekali tidak akan bisa memberikan manfaat bagi dirinya, kalau tidak dipergunakan untuk beramal. Bahkan malahan dapat menjadi bebannya di akhirat nanti.

Ada pertanggung jawaban kita di akhirat nanti kepada Tuhan atas kepercayaan di diberikan Tuhan kepada kita. Pertanggung jawaban yang paling berat tentunya prtangung jawaban harta. Kalau tentang usia, Tuhan hanya akan minta pertanggung jawaban kepada kita tentang untuk apa usia yang diberikan oleh Tuhan tersebut dihabiskan di dunia. Tetap untuk harta, Tuhan akan minta pertanggung jawaban dua hal sekaligus, yakni dari mana harta tersebut di dapatkan; apakah dengan jalan yang halal ataukah melalui jalan yang dilarang. Setelah itu baru Tuhan akan meminta pertanggung jawban tentang setelah didapatkan harta tersebut kemudian untuk apa.

Nah, ternyata harta yang kita miliki dan cari selama ini bisa membuat hidup kita menjadi bahagia dan sejahtera, tetapi juga bisa menjadikan kita sengsara dan menderita. Semua itu tergantung kepada bagaiamana kita memenejnya. Jikalau harta yang kita dapatkan tersebut melalui jalan yang benar dan tidak merugikan pihak lain, maka sesungguhnya itu baru merupakan langkah awal. Sementara itu langkah selanjutnya ialah bagaimana kita dapat mengelola harta kita tersebut untuk kebaikan, terutama keluarga kita, dan kemudian juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama di lingkungan kita.

Salah satu cara untuk menjadikan harta yang kita miliki dapat memberikan kebahagiaan kita ialah dengan membagikan sebagiannya untuk mereka yang membutuhkan. Kita sangat paham kebutuhan mendesak seseorang itu terkadang datangnya sangat menddadak dan terkadang pula berbarengan dengan kondisi yang kurang menguntungkan bagi kita, sehingga diperlukan pengeolaan sedemikian rupa sehingga sewaktu waktu ada kebutuhan yang mendesak, kita dapat mengatasinya.

Untuk keperluan mendesak yang sifatnya pribadi barangkali dapat diatasi dengan cara menabung harta kita, tetapi untuk mengatasi keperluan mendesak yang ada hubungannya dengan pihak lain, tentu dibutuhkan cara yang memunginkan untuk itu. Salah satu caranya ialah dengan membudayakan memberi dan ditampung dalam satu wadah, sehingga hal tersebut akan dapat menjadi solusi yang sangat membantu kepada masyarakat yang sangat membutuhkannya. Jadi memberi kepada siapapun itu merupakan kebaikan, namun akan lebih baik dan bermanfaat manakala pemberian tersebut dikelola dengan baik, sehingga akan dapat memberikan manfaat yang lebih besar.

Bahkan dalam lingkup yang lebih luas, budaya memberi yang kemudian dikelola dengan baik, akan dapat mengatasi atau setidaknya membantu mengatasi persoalan social yang ada. Sebagai contoh kita dapat menggambarkan bahwa dengan terkumpulnya uang, sangat mungkin kita dapat melakukan pebinaan, baik kepada para penyandang persoalan social maupun mereka yang membutuhkan ketrampilan untuk berusaha. Pendeknya sangat banyak manfaat yang dapat dipetik, manakala budaya memberi tersebut direalisasikan dan kemudian dikelola dengan baik.

Namun sekali lagi kita sangat sedih kalau kemudian kebaikan budaya memberi yang demikian jelas tersebut tidak mendapatkan respon positif dari masyarakat. Meskipun demikian saya msih sangat optimis bahwa ajakan dan anjuran untuk membudayakan memberi tersebut akan mendapatkan sambutan yang cukup baik dari sebagian besar masyarakat, setidaknya di kalangan warga besar IAIN Walisogo Semarang.

Tidak mudah memang untuk memberikan motivasi kepada masyarakat untuk membudayakan memberi tersebut, karena mainset kebanyakan masyarakat masih kepada persoalan duniawi ansich dan belum banyak mempertimbangkan kehidupan kekal di akhirat. Dan kondisi sepeprti itu sesungguhnya sudah ada semenjak dahulu, sehingga kita mengenal pernyataan yang sangat terkenal di kalangan umat Islam, yakni: " berbuatlah kalian semua untuk duniamu seakan kalian akan hidup selamanya, dan berbuatkan untuk kepentingan akhiratmu, seolah kalian akan meninggal besuk".

Persoalannya kemudian pemahaman dan penafsiran terhadap pernyataan tersebut terkadang dibalik, sehingga pengertiannya menjadi berbuatkanlah dan berinvestasilah untuk duniamu sebanyak banyaknya, karena kalian akan hidup lama di dunia dan memerlukan biaya yang cukup banyak. Sedangkan untuk akhirat cukup biasa biasa saja karena seolah kalian esok akan mati, sehingga tidak membutuhkan ongkos yang banyak. Pengertian yang cukup menyeleweng dari maksud sesungguhnya dari pernyataan tersebut ternyata mendominasi mayoritas masyarakat kita, sehingga mereka kemudian mati matian mengejar dunia sampai sampai terkadang melupakan akhirat.

Padahal pernyataan tersebut seharusnya dipahami bahwa karena kita akan hidup cukup panjang, maka tidak usah ngoyo dalam mencari dunia, toh besuk masih banyak hari dan kesempatan untuk mencarinya. Sedangkan untuk akirat yang kekal harus kalian cari sedemikian rupa karena waktumu tidak banyak untuk berinvestasi di sana. Untuk itu keperluan akhirat harus dilakukan secara sungguh sungguh dan sebanyak banyaknya, agar dapat berinvestasi yang cukup untuk krhidupan kekal di akhirat nanti. Jadi seharusnya dibalik yakni untuk kehidupan dunia tidak perlu terlalu ngoyo karena hidup masih panjang dan masih banyak kesempatan, sementara untuk akhirat waktunya sangat terbatas, padahal yang harus dipersiapkan cukup banyak, karenanya harus serius.

Kiranya cukup banyak bukti yang sesungguhnya dapat kita jadikan pegangan dalam membudayakan memberi tersebut, dan secara keseluruhan kita sama sekali tidak meneukan unsure negative dalam budaya memberi tersebut. Barangkali mungkin ada kemungkinan negatifnya, manakala memberi tersebut belum menjadi budaya dan apalagi ditambah dengan adanya motif tertentu yang selain karena Tuhan alias ikhlas. Kemungkinan negative tersebut antara lain karena sifat riya' yang menyertainya, atau mengharapkan balasan dari yang diberi untuk kepentingannya yang lebih besar, atau motivasi lainnya.

Tetapi kita sangat yakin bahwa kalau memberi tersebut sudah menjadi budaya maka sifat sifat negative dan bahkan dapat merusak tersebut akan hilang dengan sendirinya. Memang terkadang di awal kita berupaya memberi tersebut akan timbul sifat jelek tersebut, namun kalau kemudian kita cepat menyadarinya dan apalagi kemudian sudah terbiasa dengan memberi tersebut, maka dengan mudah kita akan menghilangkan sifat merusak tersebut.

Untuk itu kita juga menghimbau kepada masyarakat bahwa dalam membudayakan memberi tersebut sebaiknya memang dibarengi dengan menata hati dan pikiran kita dengan mengadakan perenungan mendalam seperti yang saya sebutkan di atas. Dengan begitu semenjak awal kita sudah bisa menata kehidupan kita untuk menyongsong kehidupan di masa mendatang yang tentunya lebih panjang dan kekal. Mudah mudahan masyarakat dapat menyadarinya dan sekaligus berkomitmen untuk menjadikan memberi tersebut sebagai budaya sehari hari dalam menapki kehidupan ini. Amin.

KORUPTOR NYALEG, YANG BENAR SAJA!

Penggodogan RRU tentang pemilihan umum saat ini sedang dilakukan oleh dewan melalui panja, namun beberapa hal telah disepakati, termasuk diperbolehkannya seorang mantan napi untuk ikut nyalon sebagai anggota legislative, tentu dengan beberapa syarat, antara lain telah selesai menjalani hukuman minimal 5 tahun dan lainnya. Alasan yang digunakan tentu sangat khas yaitu demi hak asasi manusia, karena napi juga merupakan warga negara yang mempunyai hak dan kewajiban, termasuk hak untuk mencalonkan diri sebagai legislative atau pimpinan di negeri ini.

Memang tampak sangat logis alas an yang diusung tersebut sehingga hal tersebut kemudian disepakati oleh seluruh anggota panja untuk kemudian disahkan menjadi undang undang setelah memalui proses dan mekanisme tertentu. Sebagai warga negara yang selama ini merasa sangat dirugikan dan bahkan dipermainkan oleh para koruptor, maka ketentuan seperti itu tentu sangat menyinggung perasaan dan menyakiti hati banyak warga negara yang telah merasakan betapa mereka selama ini telah dikorbankan oleh para koruptor tersebut.

Kata kata umum mantan nara pidana tersebut tentu termasuk juga mantan napi yang melakukan korupsi dan ngemplang uang negara. Lantas bagaimana mungkin kita bisa membiarkan orang orang seperti itu bisa kembali menjadi anggota legislative yang akan menentukan nasib negara kita, meskipun ada syarat yang bersangkutan mengumumkan dirinya mantan napi. Sebab kita sangat menyadari bahwa masyarakat kita pada saat ini masih belum dapat berpikir secara rasional. Kebanyakan mereka justru sangat mudah untuk di permainkan, terutama oleh mereka yang punya uang.

Kita masih sangat khawatir bahwa para mantan napi yang koruptor tersebut akan dapat melakukan apa saja dengan menghamburkan uang, dengan harapan dan target bisa menduduki kursi dewan. Nah, setelah mereka berada dalam lingkaran kekuasaan tersebut tentu mereka akan merealisasikan target yang sudah mereka rencanakan sebelumnya, yang tentu tidak akan jauh dari perbuatan untuk memperkaya sendiri. Memang ada alas an bahwa bisa saja mantan koruoptor itu bisa jera dan menjadi baik, tetapi hal tersebut tidak akan bisa menghilangkan kekhawatiran kita. Toh masih banyak anak bangsa yang lebih baik, bersih dan mempunyai komitmen untuk memajukan bangsa dan negara.

Menurut saya, panja harus mau mendengarkan jeritan masyarakat yang khawatir manakala para mantan napi yang juga koruptor tersebut diperbolehkan untuk nyaleg dan menduduki berbagai jabatan politik lainnya. Jangan hanya karena lasan sepihak demi menjunjung hak sebasgai warga negara, kemudian koruptor begitu saja dapat diloloskan untuk kesempatan seperti itu. Sebagai bangsa yang sudah berkomitmen untuk memberantas segala macam bentuk korupsi, seharusnya membentengi diri dari segala kemungkinan yang dapat menghidupkan ataupun memungkinkan pihak pihak tertentu untuk melakukan praktek korupsi di negeri ini.

Karena itu sepatutnya secara tegas dikatakan dalam undang undang yang nantinya akan disahkan tersebut bahwa mantan koruptor tidak mempunyai hak untuk menduduki jabatan sebagai pejabat public dan menjadi anggota DPR DPRD dan juga DPD. Kalau namanya perang ya harus dilakukan dengan segala upaya untuk “membunuh” musuh yang berupa korupsi dan segala macam bentuknya, termasuk para pelaku, baik yang sedang menjalani hukuman maupun yang telah selesai menjalaninya. Jangan sekali kali kita membuka pintu untuk masalah tersebut, termasuk hal hal yang mempunyai potensi untuk dipraktekkannya korupsi tersebut.

Kita sangat menyayangkan para anggota panja RUU pemilu yang dengan aklamasi menyetujui mantan napi untuk ikut nyaleg. Rupanga memang para anggota dewan belum bisa merasakan apa yang dirasakan oleh raktyat yang diwakilinya. Ini sekali lagi menjadi bukti bahwa peran dan fungsi para anggota dewan memang belum mewakili rakyat, tetapi lebih banyak mewakili partai dan dirinya sendiri. Sudah banyak bukti rakyat sangat melarat dan bahkan para petani tergencet dengan kebijakan impor pemerintah, tetapi para wakilnya yang ada di Senayan seolah tuli dan bisu serta buta. Mereka sama sekali tidak mendengar, tidak melihat dan juga tidak bisa berbicara untuk menyuarakan aspirasi rakyat yang katanya diwakilinya tersebut.

Belum lagi sikap dan tindakan para wakil rakyat yang disuguhkan dihadapan rakyat miskin yang sangat menyakitkan, seperti pembangunan renovasi ruang banggar yang harus menelan biaya hingga lebih dari 20 Milyar, kamar kecil, yang hingga 3 milyar, dan bahkan kalender yang menghbiskan ratusan juta rupiah. Sementara para rakyat yang menyaksikan hal tersdebut untuk sekedar makan saja mereka harus berjuang setengah mati, apalagi untuk memperbaiki rumah. Bahkan masih cukup banyak masyarakat kita yang tidak mempunyai tempat tinggal, dan hanya “ngiyup” di bawah jembnatan atau sekedar “nemplok” di pinggiran sungai.

Sungguh sangat ironis kondisi ini dengan keinginan ideal para pendiri bangsa ini. Seharusnya kalau para wakil rakyat benar benar memperjuangkan kepentingan rakyat, maka rakyat akan segera pulih dari penderitaan, karena dewan saat ini posisinya sangat kuat termasuk bargaining dengan pemerintah. Namun kekuatan yang dimiliki tersebut tidak diperuntukkan bagi rakyat, melainkan untuk kepentingan golongan dan pribadi dan hanya sedikit saja yang untuk rakyat.

Kalau RUU pemilu tersebut kemudian disahkan dengan masih terdapatnya pasal yang memperbolehkan koruptor nyaleg, tentu hal tersebut merupakan awal bagi bencana nasional dan rakyat sekali lagi ditutp harapannya untuk bisa sejahtera sesuai dengan tujuan didirikannya negara ini. Dalam pandangan agama tentu orang orang yang membuat regulasi untuk tampilnya para koruptor menguasai negeri ini, dianggap berdosa kepada negara dan seluruh warga bangsa. Tidak hanya sekedar itu mereka tentu akan didoakan oleh seluruh komponen bangsa ini dengan doa yang jelek, bahkan dikutuk.

Sesungguhnya kalau kita mau menggunakan nurani dan akal sehat kita, kita akan mengetahui betapa jahatnya praktek korupsi tersebut. Para palakunya, yakni para koruptor dengan enaknya menikmati hasil korupsi yang seharusnya diperuntukkan bagi negara dan rakyat. Rakyat melarat karena tidak mendapatkan haknya yang dikemplang oleh mereka para koruptor. Tidak hanya itu dengan praktek korupsi yang mereka lakukan, negara menjadi kesulitan untuk dapat memberikan fasilitas kepada rakyatnya, dan sekaligus tidak mempunyai harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Barangkali kalau diklasifikasi diantara beberapa kejahatan yang ada, korupsi menempati rangking pertama. Perampokan, pencurian, dan Pembunuhan, misalnya, sekalipun termasuk perbuatan keji, tetapi mungkin masih lebih ringan dibandingkan dengan korupsi. Kalau toh ada dosa yang tidak terampuni selain menyekutukan Tuhan, maka korupsilah wujudnya. Pendeknya korupsi harus kita jadikan musuh utama dalam kehidupan kita dan jangan sampai kita memberikan toleransi bagi siapapun untuk mengarah ke sana.

Saat ini seluruh bangsa telah sepakat untuk memrangi dan memberantas segala macam bentuk korupsi di negeri ini, meskipun kita menyadari komitmen tersebut baru yang muncul ke permukaan. Sedangkan dalam kenyataannya masih banyak diantara anak bangsa ini yang masih menginginkan lestarinya praktek korupsi tersebut. Bahkan justru yang berorientasi untuk terus mempraktekkan korupsui tersebut justru dating dari orang orang yang dapat berpikir dan seharusnya menjadi pelopor terdepan dalam pemberantasan korupsi.

Untuk itu kita semua kita harus melakukan gerakan yang massif dan yang memungkinkan semua orang menjadi takut untuk melakukan korupsi tersebut. Dan kalau kita kembali kepada persoalan pokok yakni akan disahkannya RUU tentang pemilu, kita harus berani untuk memberikan kritik pedas kepada panja dan sekaligus memberikan masukan agar mereka meninjau kembali pasal yang telah disepakati, yakni memasukkan kemungkinan napi termasuk koruptor untuk mendapatkan hak menjadi calon legislative maupun calon pejabat public lainnya.

Dengan begitu kita sesungguhnya sudah berjihad memrangi kemungkinan adanya praktek korupsi di negeri ini. Juhat tersebut sesungguhnya sangat suci asalkan dilandasi oleh semangat untuk memberhangus segala macam bentuk korupsi dan bukan diniati dengan kepentingan yang lain. Mudah mudahan para wakil rakyat yang saat ini sedang menikmati fasilitas dari negara secara berlebih dan melupakan rakyat yang semakin sengasara, akan dapat tergugah hatinya dan kemudian kembali kepada jalur yang benar. Semoga

MULUDAN

Sudah lazim di kalangan masyarakat muslim bahwa bulan Rabiul Awal atau lebih akrab dikenal dengan bulam Maulid atau Maulud ini merupakan bulan memperbanyak bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana diketahui secara umum oleh masyarakat muslim bahwa Nabi kita dilahirkan pada bulan Maulid ini, tepatnya pada tanggal 12. Oleh karena itu biasanya sejak tangal 1 bulan Maulid ini masyarakat selalu membaca shalawat dan sejarah hidupnya, terutama melalui bacaan al-Barzanji pada setiap malam atau setelah Maghrib. Bacaan bacaan shalawat tersebutbiasanya juga diakhiri sebagai puncaknya pada tanggal 12.

Malam tadi adalah malam kedua belas bulan Maulid tahun ini, karena itu hamper seluruh masjid dan mushalla ramai dengan masyarakat yang memperingati hari lahir Nabi Muhammad saw tersebut dengan berbagai aktifitas. Mengingat pada saat ini adalah musim hujan, maka aktifitas memperingatai hari lahir Nabi tersebut kebanyakan hanya dilaksanakan di dalam masjid ataupun mushallah atau tempat lainnya. Peringatan itu sendiri juga hanya diisi dengan ceramah dan sekaligus pebacaan shalawat sebagaimana malam malam sebelumnya.

Namun kita juga menyadari bahwa meskipun musim hujan, tetapi ada saja sebagian masyarakat yang memperingati mauled tersebut dengan melakukan aktifits aktifitas lainnya, seperti lomba lomba bai anak anak, seperti lomba adzan, lomba shalat, lomba baca tulis al-Quran, lomba pidato dan lomba baca al-Barzanji. Tentu masih ada bebra[pa jenis lomba yang dilaksanakan oleh sebagan masyarakat.

Memperingati hari lahir Nabi tersebut sudah menjadi tradisi turun menurun di masyarakat muslim, karena itu kegiatan peringatan seperti itu akan terus dilaksanakan meskipun dengan sangat sederhana. Bahkan diantara masyarakat ada yang menjadannya semacam "kewajiban". Pada umumnya masyarakat berkeyakinan bahwa dengan memperingati hari lahir Nabi tersebut merupakan perbuatan baik dan dapat digolongkan sebagai ibadah.

Sementara itu tujuan dari peringatan itu sendiri ialah dalam upaya untuk mendapatkan legitimasi kecintaan kepada Nabi.Karena cinta kepada Nabi merupakan salah satu hal yang akan dapat menjadikan umat mendapatkan pertolongan atau syafaat Nabi di hari kiamat nanti. Jadi wujud cinta kepada Nabi Muhammad tersebut salah satunya ialah dengan memperingati hari lahirnya. Cinta kepada nabi itulah yang menjadi dasar sangat kat untuk memperingati hari lahir tersebut dan sekaligus mengingat nama dan segala hal baik yang dilakukan oleh Nabi.

Kita tahu bahwa cinta itu membutuhkan pengorbanan dan tidak cukup hanya diucapkan dalam lisan saja, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan. Salah satu tindakan dan tanda cinta kepada Nabi ialah selalu menyebut namanya melalui pembacaan shalawat dan salam kepadanya, termasuk juga mengingat seluruh hal yang menjadi dan dianggap penting dalam hubungannya dengan Nabi, seperti hari lahir dan kecintaan Nabi.

Sementara itu diantara wujud dari kecintaan kepada Nabi ialah dengan meneladani dan mau melakukan segala hal yang menjadi kesukaan Nabi. Artina kalau orang cinta kepada Nabi, maka ia harus mau melakukan segala hal yang disukai dan dilaksanakan oleh Nabi, seperti melaksanakan seluruh kewajiban dan menjauh dari segala larangan, melakukan shalat malam, selalu dzikir kepada Tuhan, suka memberi dan menolong orang lain, berhubungan sangat baik dan menyenangkan kepada siapapun dan bahkan menyayangi orang orang miskin dan anak anak yatim.

Pendeknya kita harus menjadikan diri Nabi sebagai teladan dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Untuk itu tidak ada kata lain dalam mewujudkan semua itu, terkecuali kita harus terus menggali informasi tentang sejarah Nabi, termasuk dalam hal bagaimana sepak terjang Nabi daam hubungannya dengan kehidupan rumah tangga dan masyarakat.

Kecintaan kepada Nabi tersebut sesungguhnya juga didasari oleh riwayat hadis yang disampaikan oleh mam al-Turmudzi dimana Nabi konon telah mengatakan bahwa " barang siapa yang cinta kepada saya (Nabi), maka nanti orang tersebut akan masuk surga bersama dengan saya (Nabi). Tentu tidak seorangpun umat Islam yang tidak berkeinginan untuk isa masuk surga, apalagi bersama dengan Nabi. Karena itulah semangat cinta kepada Nabi tersebutlah yang kemudian memberikan spirit yang sangat kuat untuk melakukan sesuatu yang dianggap dapat bernilai cinta, seperti memperingati hari lahir beliau dengan membacakan shalawat dan salam.

Kalau pada saat ini masih ada yang memperingati hari lahir Nabi tersebut hanya sekedar solidaritas atas kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, maka hal tersebut tidak akan menghalangi orang tersebut untuk memperbaiki niat dan sekaligus semangat, sehingga lama kelamaan akan dapat juga merasakan nikmatnya memperingati maulid dan membaca shalawat. Karena itu dalam setiap memperingati Maulid tersebut memang sebaiknya diadakan ceramah pencerahan umat, agar umat menjadi paham dan mengerti hal halpenting yang selama ini telah dilakukan, sehingga mereka akan bisa lebih focus dan semangat dalam melakukannya.

Termasuk diantaranya ialah ketika masyarakat melakukan shalat. Artinya hampir semua umat Islam sesungguhnya telah melaksanakan kewajiban shalat, akan tetapi masih banyak diantara yang melaksanakan shalat tersebut ternyata belum dapat menikmati shalat dan menjadikan shalat sebagai media untuk berkomunikasi dengan Tuhan serta menjadikan shalat sebagai landasan untuk menjalankan kebaikan. Akibatnya masih saja banyak orang yang sehari harinya menjalankan shalat tetapi perbuatan maksiatnya masih saja berjalan. Demikian juga dengan perangai buruknya masih saja terpelihara.

Idealnya orang yang telah menjalankan shalat itu akan dapat terbebas dari segala hal yang berkonotasi maksiat, karena diantara fungsi shalat itu sendiri ialah dapat menjauhkan orang yang melakukannya dari perbuatan keji dan mungkar atau dengan bahasa lain terhindar dari maksiat. Namun dalam kenyataannya sebagaimana kita saksikan, bahwa masih banyak orang yang shalat, tetapi masih mau menipu, masih melakukan korupsi, masih menyakiti orang, masih tidak peduli dengan nasib orang miskin dan anak anak yatim, dan lainnya.

Nah, melalui peringatan Maulid seperti ini, kita sesungguhnya berharap bahwa pengetahuan umat akan dapat meningkat, sehingga kualitas iman serta amalna menjadi lebih baik. Kita tidak menginginkan bahwa masyarakat tetap berada dalam ketidak tahuannya terhadap segala hal yang sesungguhnya sudah dilakukan. Kita harus membantu masyarakat bahwa menjalankan ibadah itu tidak semata mata untuk menggugurkan kewajiban semata, melainkan harus ada manfaat yang dapat dirasakan dari pelaksanaan ibadah tersebut.

Meskipun begitu kita tetap memberikan apresiasi kepada masyarakat yang selama ini telah memperingati Maulid Nabi dengan membaca sejarah Nabimeskipun mereka tidak paham dengan sejarah itu sendiri. Saya katakan tidak paham, karena ternyata yang dibaca selama dua belas malam berturut turut tersebut ialah sejarah Nabi dengan bahasa Arab, seperti yang tertulis dalam buku al-Barzanji. Setidaknya mereka telah berusaha untuk membaca shalawat dan salam kepada Nabi dan ada keinginan untuk diakui sebagai umat Nabi yang cinta kepada Nabi dan berharap mendapatkan syafaat di akhirat nanti.

Kondisi tersebut merupakan modal yang sangat berharga untuk menuju kehidupan yang lebih baik dan berkualitas di kemudian hari. Syaratnya ialah dengan kesungguhan kita semua orang oang yang tahu untuk memberikan pencerahan kepada mereka secara benar dan tepat. Kita tidak boleh mencela mereka yang belum tahu atau belum mengerti, tetapi kita harus membimbing mereka sehingga mereka akan dapat menyadari dan mengerti dengan baik.

Keinginan umat untuk menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan dan sekaligus panutan, merupakan sesuatu yang sangat baik, hanya saja kitalah yang kemudian harus memberikan penjelasan tentang berbagai hal baik yang menjadi kesukaan Nabi yang justru belum dilaksanakan oleh masyarakat. Kita sangat yakin bahwa dengan kesabaran dan kebijaksanaan, kita akan dapat menjadikan masyarakat yang sudah mempunyai modal kuat tersebut untuk dapat lebih berkualitas dalam kehidupannya.

KENYATAAN YANG HARUS DITERIMA

Banyak di dunia ini sesuatu yang tidak diharapkan, justru malah terjadi dan hal tersebut kemudian menjadi beban tersendiri, dan kadangkala juga akan membuat kerugian besar dan bahkan juga harga diri menjadi tercabik. Semua orang tentu mengharapkan sesuatu yang baik bahkan terbaik akan terjadi, sejak dalam lingkuip keluarga hingga lingkup negara. Semua orang ingin beruntung dan selalu sukses dalam melakoni kehidupan, namun yang terjadi terkadang malah sebaliknya; Bukannya beruntung, malahan mendapatkan kerugian yang tidak pernah diprediksi sebelumnya; jangankan bisa menjadi lebih baik, malahan cenderung terus melorot dan terpuruk, dan begitu seterusnya.

Demikian juga yang terjadi dalam dunia sepak bola kita. Ketika era Nudin Khlaid berkuasa, semua orang menjadi gerah dengan sepak terjangnya, bahkan ketika dia menjalani kehidupan dibalik jerujipun masih dipercaya menjadi orang nomor satu di PSSI. Pada saat itu kedudukannya sangat kuat, karena seluruh pengurus daerah merasa berhutang budi kepadanya dan selalu akan mendukungnya , meskipun dalam kondisi tidak normal. Dan itulah kenyataan yang dulu pernah kita alami dan bertahan hingga beberapa lama. Sampai akhirnya terjadi revolusi sepakbola di tanah air dan akhirnya berhasil menjungkalkan Nurdin dari kursi PSSI.

Sebagaimana kita ingat bahwa perjuangan untuk menjatuhkan Nurdin bukan persoalan mudah dan bahkan harus memerlukan gerakan massa yang demikian hebat. Pada saat itu banyak orang memperkirakan bahwa beban yang dipikul oleh pengurus PSSI berikutnya tentu akan semakin berat, mengingat asa masyarakat sedemikian kuat untuk mengubah kondisi persepak-bolaan tanah air menjadi lebih baik dan berprestasi. Saya sendiri pada waktu itu sudah membayangkan bahwa masyarakat tentu akan kecewa, karena harapan yang begitu menggebu dan hanya ingin prestasi secara instan, titik. Karena itu menurut saya tidak ada seorangpun yang nantinya bakal dapat memberikan harapan sepeerrti itu, termasuk misalnya harus mendatangkan pelatih top dunia sekalipun.

Namun demikian pada saat itu saya memberikan masukan bagi pengurus yang nantinya terpilih dan mendapatkan amanat untuk mengelola persepakbolaan kita, agar lebih mengutamakan penataan organisasi, system kompetisi dan penggalian bakat serta pembinaannya. Dan yang tidak boleh dilupakan ialah melaksanakan sosialisasi secara gencar tentang system yang dilakukan serta hasil yang nantinya akan dapat dipetik, sehingga sedikit demi sedikit masyarakat bisa mengerti dan tidak menuntut prestasi yang isntan.

Nah, kenyataannya kemudian menjadi lain sama sekali, karena proses menuju pemilihan pengurus PSSI ternyata menjadi sangat rumit dan tidak ada kata sepakat, meskipun akhirnya dapat dilaksanakan dan kemudian menghasilkan komposisi kepengurusan PSSI di bawah kepemimpinan Johar Arifin. Tetapi lagi lagi kita semakin dibuat tidak mengerti ketika pengurus PSSI tidak mencari solusi terhadap system kompetisi dan konsolidasi kepengurusan hingga menjadi solid. Yang ada justru malah tidak mengakui kompetisi yang dulu sudah pernah ada, yakni ISL dan hanya mengajkui IPL. Tentu keptususan tersebut tidfak akan menyelesaikan masalah melainkan justru malahan menambah masalah.

Keberadaan ISL itu merupakan sesuatu yang niscaya, demikian juga keberadaan IPl yang meskipun lebih baru munculnya, tetapi tetap harus diakui keberadaannya. Harapan masyarakat tentunya bagiamana dapat menyelesaikan dua kompetisi tersebut menjadi sebuah kompetisi yang saling menunjang dan status masing masing harus diberikan secara jelas; apakah digabungkan, ataukah dicarikan cara lain yang relative tidak merugikan pihak manapun. Tetapi boro boro mencarikan solusi untuk masalah tersebut, pengurus PSSI sendiri malahan melakukan blunder dengan melakukan langkah langkah yang keluar dari statute dan kleuar dari keputusan konggres PSSI di Bali.

Berawal dari langkah yang demikian, akhirnya banyak pihak, termasuk klub yang kemudian mempermasalahkan langkah yang ditempuh PSSI tersebut, bahkan kemudian tidak mengakui ISL yang sudah berjalan selama ini. Akibatnya ada beberapa klub yang merasa dirugikan, seperti Persipura yang meskipun menjadi juara di ISL yang berhak mewakili Indonesia di liga Champiun Asia menjadi tidak berhak dan pemain yang berlaga di ISL tidak berhak untuk main di timnas, serta berbagai persoalan lainnya.

Bahkan Rahmat Dharmawan ketika itu yang dianggap sukses menangani timnas U 23 harus mengundurkan diri, akibat kepurtusan PSSI yang merugikan pemain tersebut. Kondisi seperti itu terus berjalan dan PSSI terus rebut dengan persoalan internal serta berhadapan dengan rival rival yang menginginkan adanya pergantian kepengurusan melalui KLB. Keadaan seperti itu kemudian menjadikan banyak orang yang tadinya peduli dengan PSSI kemudian memilih apatis dan tidak mau lagi rebut dengan persoalan perebutan pengaruh dan kekuasaaan di tubuh PSSI.

Nah, setelah semalam timnas kita dicukur gundul oleh Bahrain dengan skor 0-10, mau tidfak mau pihak pihak yang tadinya bersabar dan memilih apatis, tergugah kembali untuk berkiprah setidaknya dalam memberikan urun rembuk dalam persoalan bola di negeri ini. Sepak bola merupakan olah raga yang sudah merakyat, tidak saja di negeri kita tetapi juga di seluruh negeri di dunia ini. Karena itu sesungguhnya sepakbola itu sangat erat berhubungan dengan martabat suatu bangsa. Nah, sehubungan hal tersebut, sebagai bangsa yang cukup besar, dan sepak bolanya juga sudah cukup umur, kalau kemudian digunduli Bahrain dengan skor seperti itu tentu kita menjadi terendahkan.

Barangkali kalau kalah sepeperti itu dari kesebelasan spanyol, atau Jerman, belanda Inggris, Itali, Argentina ataupun Brasil, kita masih bisa memakluminya, tetati ini kalah dari Bahrain yang sama sama Asia dan belum pernah berprestasi di tingkat dunia. Sungguh sangat memalukan dan menyakiti semua pihak pecinta bola di negeri ini. Semua orang, mulai dari mantan pemain timnas, mantan pelatih timnas dan mantan pengurus PSSI sama sama menggugat dan menyalahkan PSSI dan mengatakan bahwa PSSI harus bertanggung jawab dalam persoalan ini.

Keterkaitan antara sepakbola sebagai olah raga terpopuler dengan martabat suatu bangsa dapat dijelaskan bahwa banyak negara yang tadinya tidak terdengar dalam kancah kenegaraan di dunia, tetapi tiba tiba menjadi menonjol dan menjadi pembicaraan dunia ialah disebabkan oleh karena kemajuannya dalam bidang olah raga yang satu ini. Beberapa negara di Afrika misalnya, dahulu sama sekali tidak dikenal dunia, tetapi ketika banyak negaranya yang mengejutkan dalam piala dunia maupun dalam olimpiade, atau setidaknya banyaknya pemain negara tersebut di klub klub ternama di Eropa, kemudian negara tersebut menjadi sangat terkenal dan diperhitungkan oleh negara lainnya.

Sekali lagi kekalahan telak timnas kita dari Bahrain memang menjadi tamparan paling menyakitkan, dan itu merupakan kekalahan terbesar sepanjang sejarah persepakbolaan nasional kita. Dengan dalih apapun sesungguhnya kita tidak dapat menerimanya, karena sehrusnya kalau bertanding melawan Bahrain, kalaupun kalah itu ya Cuma 1-3 gol saja tidak sampai memalukan seperti saat ini. Banyak yang menyayangkan kenapa yang dimasukkan ke dalam timnas kita mereka yang sangat minim pengalaman. Sementara mereka yang kaya pengalaman, karena berada di ISL kemudian tersingkirkan. Itulah kebijakan yang sama sekali tidak bijak, lantaran keegoisan serta sikap arogansi yang ditunjukkan oleh PSSI.

Namun yang lebih menyakitkan lagi ialah ketika kita mengetahui sikap PSSI tentang masalah ini yang mencari kambing hitam dengan mengatakan bahwa penyebab kekalahan Indonesia ialah karena dikerjain wasit. Tidak sepantasnya PSSI mengalihkan tanggung jawab kekalahan timnas kita kepada wasit. Mungkin memang kita dapat menyayangkan kepada wasit yang memberikan kartu merah di awal pertandingan, tetapi menurut saya itu merupakan keputusan yang memang harus diambil untuk menegakkan keadilan di lapangan. Wasit, apalagi di tingkat internasional tentu akan melakukan tugasnya dengan hati hati sesuai dengan standar yang berlaku. Kalau kemudian ada sebagian keputusan yang dianggap tidak tepat, kita harus bisa memakluminya, karena wasit itu juga manusia. Kesalahan wasit bisa saja terjadi di pertandingan manapun, karena itu kita tidak sepatutnya menyalahkan wasit, ketika kita kalah dalam pertandingan.

Kita berharap bahwa dengan kenyataan yang memang harus kita terima ini, kita akan dapat memperbaiki persepakbolaan kita. Pemerintah juga tidak dapat tinggal diam saja, serta harus segera ikut campur dalam menyelesaikan persoalan PSSI ini. Intervensi dalam hal teknis dan strategi bersepakbola memang dilarang dan tidak sepatutnya dilakukan oleh pemerintah, tetapi dalam hal panyatuan PSSI dan soliditasnya tentu tidak hanya boleh, malahan wajib hukumnya. Sepak bola bukan hanya milik pengurus PSSI saja melainkan sudah menjadi milik seluruh bangsa, karena itu sekali lagi kita harus menyelamatkannya bersama sama.